Shopify Indonesia
Shopify Indonesia · 07 OCTOBER 2026 · 15 MIN READ
Shopify Indonesia: Panduan Lengkap untuk Brand dan Bisnis
Shopify bukan sekadar platform untuk membuat toko online. Bagi brand yang sudah berjualan di marketplace, Shopify bisa menjadi fondasi untuk membangun ONE MORE CHANNEL—website brand sendiri yang dirancang untuk pengalaman, hubungan customer, dan pertumbuhan commerce.
AUTHOR — SLASH Editorial Team

Kalau sebuah brand sudah berjualan di Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, Instagram, atau channel lainnya, pertanyaan tentang Shopify biasanya bukan lagi:
"Apakah saya perlu jualan online?"
Melainkan:
"Apakah sekarang saatnya brand saya punya website sendiri?"
Pertanyaan ini penting karena website bukan harus menjadi pengganti marketplace.
Marketplace tetap punya fungsi yang sangat kuat: discovery, traffic, promosi, dan transaksi. Tetapi ketika sebuah brand mulai ingin membangun pengalaman belanja yang lebih khas, berhubungan lebih langsung dengan customer, dan menambah jalur penjualan di luar marketplace, website sendiri mulai menjadi semakin relevan.
Di situlah Shopify masuk.
Shopify adalah platform commerce berbasis cloud yang memungkinkan bisnis membuat dan mengelola online store, produk, checkout, pesanan, inventori, pemasaran, dan berbagai channel penjualan dari satu sistem. Shopify juga mendukung penjualan melalui website, social commerce, marketplace tertentu, retail, dan channel lainnya.
Tetapi untuk brand Indonesia, pertanyaan yang lebih menarik bukan sekadar "apa itu Shopify?"
Pertanyaannya adalah:
Apakah Shopify masuk akal untuk bisnis Anda sekarang, apa yang sebenarnya Anda dapatkan, berapa kompleksitasnya, dan kapan sebaiknya mulai?
Artikel ini membahasnya dari perspektif tersebut.
Apa Itu Shopify?
Secara sederhana, Shopify adalah platform untuk membangun dan menjalankan bisnis commerce tanpa harus mengembangkan seluruh infrastruktur ecommerce dari nol.
Dengan Shopify, sebuah brand dapat memiliki online store sendiri, mengelola katalog produk, menerima dan memproses order, mengatur checkout, mengelola inventori, menghubungkan aplikasi tambahan, dan menjalankan aktivitas commerce dari satu admin.
Shopify juga merupakan platform hosted. Artinya, bisnis tidak perlu mengelola server ecommerce sendiri atau melakukan maintenance software seperti ketika membangun platform ecommerce dari awal.
Yang menarik, Shopify tidak berhenti pada website.
Ekosistemnya memungkinkan brand menghubungkan berbagai aktivitas commerce, mulai dari online store hingga social selling, marketplace, retail, dan aplikasi pihak ketiga.
Jadi, lebih tepat melihat Shopify sebagai:
commerce platform, bukan sekadar website builder.
Bagaimana Shopify Bekerja?
Gambaran sederhananya seperti ini:
CUSTOMER
↓
TRAFFIC
↓
SHOPIFY STOREFRONT
↓
PRODUCT → CART → CHECKOUT
↓
PAYMENT
↓
ORDER
↓
FULFILLMENT
↓
CUSTOMER
↓
DATA & RETENTION
Di belakangnya, Shopify menyediakan sejumlah komponen yang biasanya diperlukan untuk menjalankan online commerce:
- storefront
- product catalog
- collection
- shopping cart
- checkout
- order management
- inventory
- shipping
- payment integration
- analytics
- marketing tools
- apps & integrations
Artinya, sebuah brand tidak perlu membangun seluruh sistem tersebut dari awal.
Namun ada satu hal yang sering disalahpahami:
Shopify menyediakan infrastructure. Bukan otomatis menyediakan business strategy.
Memiliki Shopify store tidak otomatis membuat customer datang.
Anda tetap membutuhkan:
- produk yang relevan
- positioning yang jelas
- brand identity
- traffic acquisition
- content
- customer experience
- conversion strategy
- retention
Inilah mengapa membuat website Shopify sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan:
"Theme apa yang bagus?"
Tetapi dari:
"Peran website ini dalam bisnis kita apa?"
Apa yang Bisa Dijual melalui Shopify?
Shopify mendukung berbagai model commerce.
Contohnya:
Produk fisik
Fashion, beauty, furniture, food, lifestyle, accessories, electronics, dan berbagai produk consumer lainnya.
Produk digital
Digital downloads, educational products, templates, dan jenis produk digital lainnya.
Subscription
Model berlangganan dapat digunakan dengan konfigurasi dan aplikasi yang sesuai.
Services
Brand atau bisnis yang menjual layanan tertentu juga dapat menggunakan Shopify sebagai bagian dari commerce experience.
Retail
Dengan Shopify POS, bisnis dapat menghubungkan aktivitas online dan physical retail dalam satu ekosistem.
Jadi Shopify tidak terbatas pada satu tipe bisnis.
Tetapi bisa digunakan tidak selalu berarti cocok digunakan sekarang.
Itulah keputusan yang lebih penting.
Shopify Bukan Sekadar Website
Ketika orang mengatakan:
"Kami mau bikin website Shopify."
Sering kali yang dimaksud sebenarnya adalah:
"Kami ingin membangun channel commerce yang lebih kita kendalikan."
Perbedaannya cukup besar.
Website hanyalah interface yang dilihat customer.
Di belakangnya terdapat:
Experience + Commerce + Customer + Data + Operations
Karena itu, website brand yang baik bukan hanya tentang homepage yang terlihat premium.
Ia harus menjawab:
- Bagaimana customer menemukan produk?
- Bagaimana mereka memahami value produk?
- Bagaimana mereka berpindah dari discovery ke purchase?
- Bagaimana mereka checkout?
- Bagaimana order diproses?
- Bagaimana brand membangun repeat purchase?
- Bagaimana bisnis memahami perilaku customer?
- Bagaimana website terhubung dengan sistem lain?
Di sinilah Shopify menjadi menarik untuk brand yang sedang berkembang.
Mengapa Brand yang Sudah Ada di Marketplace Mulai Mempertimbangkan Shopify?
Ini bagian yang paling relevan untuk banyak brand Indonesia.
Jika marketplace sudah menghasilkan penjualan, mengapa harus membuat website?
Jawabannya bukan karena marketplace buruk.
Justru sebaliknya.
Marketplace bisa menjadi salah satu channel yang sangat penting.
Tetapi ketika bisnis berkembang, kebutuhan bisnis juga berkembang.
Ada beberapa alasan mengapa website sendiri mulai masuk dalam strategi.
1. Brand Experience
Marketplace memiliki struktur dan aturan experience yang relatif seragam.
Brand tetap dapat mengoptimalkan foto, copy, harga, merchandising, dan promosi. Tetapi ruang untuk membentuk keseluruhan experience tetap berbeda dengan memiliki storefront sendiri.
Di website, brand dapat menentukan:
- visual language
- storytelling
- navigation
- product discovery
- merchandising
- campaign landing page
- editorial content
- bundle
- cross-sell
- brand story
- customer journey
Dengan kata lain:
marketplace membantu Anda menjual di dalam ekosistem mereka.
Website memungkinkan Anda membangun storefront di dalam ekosistem brand Anda sendiri.
Bukan berarti satu selalu lebih baik daripada yang lain.
Perannya berbeda.
2. Direct Customer Relationship
Marketplace menjadi perantara penting antara brand dan customer.
Website memberi brand ruang yang berbeda untuk membangun relationship secara langsung melalui pengalaman yang dirancang sendiri.
Misalnya:
- newsletter
- membership
- account
- product education
- post-purchase communication
- loyalty
- campaign
- repeat purchase journey
Ini bukan berarti website otomatis memberikan "100% customer data" kepada brand.
Data yang tersedia tetap bergantung pada platform, konfigurasi, consent, integrasi, dan aturan privasi yang berlaku.
Tetapi secara strategis, website dapat memberikan brand lebih banyak ruang untuk membangun hubungan langsung dengan customer dibandingkan hanya mengandalkan marketplace.
3. Customer Insight
Website juga dapat menjadi sumber insight tambahan.
Misalnya:
- produk apa yang paling sering dilihat
- halaman mana yang paling menarik
- bagaimana customer menemukan produk
- halaman mana yang menghasilkan purchase
- campaign mana yang menghasilkan traffic
- customer mana yang kembali
- bagaimana behavior berbeda antara mobile dan desktop
Insight seperti ini dapat membantu brand membuat keputusan merchandising, marketing, content, dan conversion.
Tetapi sekali lagi:
data bukan otomatis insight.
Anda tetap membutuhkan tracking yang benar, analytics yang benar, dan kemampuan membaca data.
4. Repeat Purchase
Marketplace sangat kuat untuk discovery dan transaksi.
Tetapi brand yang sudah memiliki customer base biasanya mulai memikirkan pertanyaan berikutnya:
"Bagaimana customer yang sudah pernah membeli bisa kembali?"
Website dapat menjadi salah satu infrastructure untuk membangun lifecycle tersebut.
Contohnya:
FIRST PURCHASE
↓
POST-PURCHASE
↓
PRODUCT EDUCATION
↓
NEW PRODUCT
↓
REPEAT PURCHASE
↓
LOYAL CUSTOMER
Website bukan satu-satunya alat untuk melakukan ini.
CRM, email, WhatsApp, social media, loyalty platform, dan customer service semuanya dapat berperan.
Website adalah salah satu bagian dari sistem tersebut.
5. Commerce Experience
Brand yang lebih matang biasanya tidak hanya membutuhkan "toko online".
Mereka membutuhkan commerce experience.
Misalnya:
Campaign → Landing Page → Product → Cart → Checkout → Post Purchase
Atau:
Content → Education → Product Discovery → Purchase
Atau:
Instagram → Website → Product Page → WhatsApp → Purchase
Website menjadi titik yang dapat menghubungkan berbagai journey tersebut.
6. Channel Resilience
Ini mungkin alasan yang paling strategis.
Jika seluruh penjualan hanya bergantung pada satu channel, bisnis memiliki ketergantungan terhadap channel tersebut.
Menambah channel tidak berarti meninggalkan channel lama.
Justru:
MARKETPLACE
+
WEBSITE
+
SOCIAL
+
RETAIL
=
COMMERCE ECOSYSTEM
Inilah cara kami melihat konsep ONE MORE CHANNEL di SLASH.
Bukan:
Marketplace vs Website
Tetapi:
Marketplace + Website
Shopify vs Marketplace: Apakah Shopify Menggantikan Marketplace?
Tidak harus.
Ini adalah salah satu miskonsepsi paling umum.
Marketplace dan website memiliki fungsi yang berbeda.
| Aspek | Marketplace | Website Brand |
|---|---|---|
| Discovery | Kuat | Perlu dibangun |
| Traffic awal | Disediakan ekosistem | Brand harus mengakuisisi |
| Brand experience | Lebih terbatas | Lebih fleksibel |
| Storefront | Mengikuti platform | Milik brand |
| Customer journey | Mengikuti ekosistem | Dapat dirancang |
| Customer relationship | Lebih terbatas oleh platform | Lebih banyak ruang untuk dibangun |
| Content | Terbatas | Lebih fleksibel |
| Campaign experience | Mengikuti format platform | Dapat dibuat khusus |
| Data strategy | Bergantung pada platform | Lebih banyak ruang untuk first-party strategy |
| Peran | Discovery + transaction | Experience + commerce + relationship |
Karena itu, keputusan yang lebih masuk akal bukan:
"Marketplace atau Shopify?"
Melainkan:
"Apa peran marketplace dan website dalam commerce ecosystem kami?"
Kelebihan Shopify untuk Brand
Ada beberapa alasan Shopify banyak dipilih sebagai platform commerce.
1. Brand Control
Brand memiliki ruang lebih besar untuk membangun storefront sesuai identity dan customer journey.
2. Commerce Infrastructure
Produk, order, checkout, inventory, dan berbagai aktivitas commerce tersedia dalam satu platform.
3. Ecosystem
Shopify memiliki ecosystem aplikasi dan integrasi yang luas.
4. Scalability
Platform dapat digunakan mulai dari bisnis kecil sampai organisasi commerce yang jauh lebih kompleks, termasuk Shopify Plus untuk kebutuhan enterprise.
5. Multi-channel Capability
Website bukan satu-satunya tempat Shopify dapat digunakan. Shopify mendukung berbagai channel penjualan dan integrasi, termasuk social, marketplace tertentu, dan physical retail.
Apa Kekurangan Shopify?
Tidak ada platform yang sempurna.
Dan Shopify juga bukan pilihan terbaik untuk setiap bisnis.
1. Ada biaya platform
Shopify menggunakan model subscription.
Selain biaya subscription, bisnis mungkin membutuhkan:
- domain
- premium theme
- paid apps
- payment gateway
- integration
- development
- maintenance
Tidak semuanya wajib.
Contohnya, sebuah brand dapat menggunakan theme yang sudah tersedia tanpa membeli premium theme.
Sebaliknya, brand yang membutuhkan experience khusus mungkin membutuhkan development dan customisation yang lebih besar.
Biaya aktual sangat bergantung pada kebutuhan bisnis dan konfigurasi yang digunakan.
Harga dan paket juga dapat berubah, sehingga sebaiknya selalu memeriksa halaman pricing resmi Shopify sebelum mengambil keputusan.
2. Website tidak otomatis mendapatkan traffic
Ini sangat penting.
Membuat Shopify store tidak berarti customer akan datang dengan sendirinya.
Anda tetap membutuhkan acquisition.
Misalnya:
- SEO
- social media
- creator/influencer
- ads
- content
- community
- CRM
- existing customer base
Storefront adalah destination. Traffic tetap harus dibangun.
3. Apps dapat menambah kompleksitas
Ekosistem aplikasi adalah salah satu kekuatan Shopify.
Tetapi terlalu banyak aplikasi juga dapat meningkatkan:
- biaya
- dependency
- maintenance
- kemungkinan konflik
- complexity
Karena itu, prinsip yang lebih sehat adalah:
Install only what the business actually needs.
4. Integrasi Indonesia perlu diperhatikan
Ini salah satu hal yang harus dipikirkan sejak awal.
Shopify Payments saat ini tidak mencantumkan Indonesia dalam daftar negara yang didukung. Jika Shopify Payments tidak tersedia untuk lokasi bisnis Anda, Shopify mengarahkan merchant untuk menggunakan penyedia pembayaran pihak ketiga yang tersedia untuk wilayah tersebut.
Artinya, ketika membangun Shopify untuk brand Indonesia, payment gateway bukan detail yang sebaiknya dipikirkan belakangan.
Periksa:
- payment gateway
- metode pembayaran
- biaya transaksi
- settlement
- shipping
- tax
- integrasi inventory
sebelum storefront diluncurkan.
Berapa Biaya Shopify di Indonesia?
Tidak ada satu angka yang cocok untuk semua brand.
Secara umum, budget Shopify terdiri dari beberapa layer:
SHOPIFY SUBSCRIPTION
+
DOMAIN
+
THEME
+
APPS
+
PAYMENT
+
DEVELOPMENT
+
INTEGRATION
+
ONGOING SUPPORT
Tidak semuanya wajib.
Contohnya, sebuah brand dapat menggunakan theme yang sudah tersedia tanpa membeli premium theme.
Sebaliknya, brand yang membutuhkan experience khusus mungkin membutuhkan development dan customisation yang lebih besar.
Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna daripada:
"Berapa harga Shopify?"
adalah:
"Berapa biaya yang dibutuhkan untuk membangun commerce setup yang benar-benar saya perlukan?"
Untuk angka subscription terbaru, gunakan halaman pricing resmi Shopify karena paket, promo, dan harga dapat berubah.
Siapa yang Cocok Menggunakan Shopify?
Shopify biasanya mulai menarik ketika bisnis memiliki beberapa kondisi berikut:
- sudah memiliki produk yang jelas
- sudah memiliki demand
- sudah berjualan online
- memiliki brand identity
- mulai memiliki customer base
- ingin membangun website sendiri
- ingin menambah channel penjualan
- ingin membangun customer relationship lebih langsung
- membutuhkan commerce infrastructure yang lebih terintegrasi
- ingin mengembangkan online store tanpa membangun seluruh infrastructure dari nol
Untuk brand fashion, beauty, lifestyle, apparel, dan consumer products, Shopify juga dapat menjadi fondasi yang menarik karena storefront dan commerce experience dapat dikembangkan mengikuti karakter brand.
Tetapi tidak berarti semua bisnis harus menggunakan Shopify.
Jika bisnis masih sangat awal dan belum memiliki demand, masalah utamanya mungkin bukan platform.
Masalahnya mungkin:
product-market fit.
Jika customer belum datang, mengganti atau menambah platform belum tentu menyelesaikan masalah.
Kapan Brand Sebaiknya Mulai Shopify?
Tidak ada angka omzet universal yang mengatakan:
"Begitu omzet mencapai X, Anda wajib membuat Shopify."
Menurut kami, readiness lebih berguna dilihat dari kombinasi beberapa sinyal.
Shopify mulai masuk akal ketika:
1. Demand sudah terbukti
Ada customer yang benar-benar membeli produk.
2. Brand mulai berkembang
Brand identity sudah cukup jelas untuk diterjemahkan ke storefront.
3. Marketplace sudah berjalan
Anda tidak memulai dari nol.
4. Ada repeat customer
Sudah ada alasan untuk membangun relationship lebih panjang.
5. Social audience mulai terbentuk
Instagram, TikTok, community, atau channel lainnya dapat menjadi sumber traffic.
6. Produk cukup stabil
Catalog dan inventory sudah cukup siap untuk online store.
7. Ada kebutuhan akan channel tambahan
Ini yang paling penting.
Jika semua penjualan masih bergantung pada marketplace dan brand mulai merasa membutuhkan ruang sendiri, website menjadi lebih relevan.
Shopify DIY atau Menggunakan Shopify Partner?
Keduanya valid.
DIY
Cocok ketika:
- kebutuhan sederhana
- catalog kecil
- theme sudah cukup
- owner memiliki waktu
- tidak membutuhkan custom integration
Keuntungannya adalah biaya awal dapat lebih rendah.
Trade-off-nya adalah waktu dan learning curve.
Menggunakan Shopify Partner
Lebih masuk akal ketika:
- brand identity penting
- membutuhkan custom UX
- ingin launch lebih cepat
- membutuhkan integration
- membutuhkan conversion strategy
- membutuhkan migration
- memiliki kebutuhan technical yang lebih kompleks
Partner yang baik seharusnya tidak hanya bertanya:
"Theme mana yang mau dipakai?"
Tetapi juga:
"Apa peran website ini dalam bisnis Anda?"
Karena build yang bagus dimulai dari business problem.
Apa yang Perlu Disiapkan Sebelum Membuat Shopify Store?
Sebelum masuk development, siapkan setidaknya:
Brand
- logo
- color
- typography
- visual identity
- brand guideline
Product
- product catalog
- SKU
- pricing
- variant
- product image
- description
- inventory
Commerce
- payment gateway
- shipping
- return policy
- order workflow
Content
- homepage content
- product content
- about
- FAQ
- policy pages
Acquisition
- TikTok
- existing customer database
- ads
- SEO
Measurement
- analytics
- conversion tracking
- campaign tracking
Semakin siap input-nya, semakin sedikit friction ketika development dimulai.
Shopify sebagai ONE MORE CHANNEL
Pada akhirnya, kami melihat Shopify bukan sebagai keputusan untuk "meninggalkan marketplace".
Kami melihatnya sebagai keputusan untuk menambah channel.
Bayangkan ecosystem sederhana:
BRAND
│
┌─────────────┼─────────────┐
↓ ↓ ↓
MARKETPLACE WEBSITE SOCIAL
│ │ │
↓ ↓ ↓
DISCOVERY EXPERIENCE ENGAGEMENT
│
↓
CUSTOMER
│
↓
RELATIONSHIP
│
↓
GROWTH
Marketplace tetap memiliki perannya.
Social tetap memiliki perannya.
Retail tetap memiliki perannya.
Website menjadi satu channel tambahan yang memberikan ruang bagi brand untuk membangun experience dan relationship dengan caranya sendiri.
Itulah inti dari ONE MORE CHANNEL.
Satu channel tambahan bisa membuka cara baru bagi brand untuk menjangkau customer, membangun hubungan langsung, dan mengembangkan bisnis.
Checklist: Apakah Brand Anda Sudah Siap?
Gunakan checklist sederhana ini.
Jika sebagian besar jawabannya ya, mungkin sudah waktunya mempertimbangkan website sendiri.
- Produk sudah memiliki demand
- Brand identity sudah cukup jelas
- Sudah memiliki penjualan online
- Sudah memiliki customer
- Sudah memiliki repeat customer
- Social audience mulai terbentuk
- Catalog dan inventory cukup siap
- Ingin memiliki storefront sendiri
- Ingin menambah channel penjualan
- Ingin membangun customer relationship lebih langsung
- Memiliki sumber traffic ke website
- Siap mengelola channel tambahan
Jika sebagian besar belum terpenuhi, tidak masalah.
Mungkin belum waktunya.
Yang penting adalah membangun platform berdasarkan kebutuhan bisnis, bukan karena semua brand lain sudah memilikinya.
FAQ Shopify Indonesia
Apakah Shopify bisa digunakan oleh bisnis di Indonesia?
Ya. Shopify dapat digunakan untuk bisnis di Indonesia. Namun, merchant Indonesia perlu memperhatikan ketersediaan payment gateway, shipping, dan integrasi lokal. Shopify Payments saat ini tidak mencantumkan Indonesia dalam daftar negara yang didukung, sehingga penggunaan penyedia pembayaran pihak ketiga perlu dipertimbangkan.
Apakah Shopify menggantikan Shopee atau Tokopedia?
Tidak harus.
Shopify dapat digunakan sebagai channel tambahan sementara marketplace tetap menjadi bagian dari commerce ecosystem.
Apakah Shopify cocok untuk fashion brand?
Bisa sangat cocok, terutama jika brand membutuhkan storefront yang lebih kuat secara visual, product storytelling, merchandising, dan customer experience.
Namun kecocokan tetap bergantung pada maturity bisnis dan kebutuhan teknis.
Apakah Shopify gratis?
Shopify bukan platform gratis permanen. Shopify menawarkan trial dan berbagai paket subscription. Harga dan promo dapat berubah, sehingga selalu periksa pricing resmi Shopify untuk informasi terbaru.
Apakah harus bisa coding untuk menggunakan Shopify?
Tidak selalu.
Shopify dirancang agar banyak aktivitas store dapat dilakukan tanpa coding. Namun kebutuhan custom UX, integration, automation, atau functionality tertentu dapat membutuhkan developer.
Apakah Shopify otomatis mendatangkan customer?
Tidak.
Shopify menyediakan commerce infrastructure. Traffic tetap harus dibangun melalui acquisition, social, SEO, content, ads, community, CRM, atau channel lainnya.
Berapa lama membuat website Shopify?
Tergantung scope.
Store sederhana dapat disiapkan relatif cepat. Store dengan custom design, migration, integration, tracking, dan QA membutuhkan waktu lebih panjang.
Yang lebih penting daripada mengejar tanggal launch adalah memastikan scope, content, access, product data, dan integration sudah siap.
SLASH POV
Marketplace bukan masalah.
Website bukan pengganti marketplace.
Dan memiliki website sendiri tidak otomatis membuat bisnis tumbuh.
Yang lebih penting adalah memahami peran setiap channel dalam commerce ecosystem.
Marketplace dapat menjadi tempat customer menemukan dan membeli produk.
Social dapat menjadi tempat brand membangun attention dan community.
Website dapat menjadi tempat brand membangun experience, commerce journey, dan customer relationship dengan lebih leluasa.
Karena itu, keputusan untuk menggunakan Shopify seharusnya bukan:
"Saya ingin punya website."
Tetapi:
"Saya ingin menambahkan channel baru yang bisa saya bangun sesuai kebutuhan brand dan bisnis saya."
That is the difference between building a website and building another channel.
Kesimpulan
Shopify adalah platform commerce yang menyediakan infrastructure untuk membangun dan mengelola online store serta berbagai aktivitas commerce lainnya.
Kelebihannya bukan hanya kemampuan membuat website.
Shopify dapat membantu brand menghubungkan:
Storefront → Product → Checkout → Order → Inventory → Customer → Growth
Tetapi platform bukan strategi.
Shopify tidak otomatis mendatangkan traffic.
Shopify tidak otomatis meningkatkan conversion.
Dan Shopify tidak otomatis membuat sebuah brand memiliki customer relationship yang kuat.
Semua itu tetap membutuhkan strategy, experience, acquisition, content, data, dan execution.
Untuk brand Indonesia yang sudah memiliki demand dan mulai ingin berkembang di luar marketplace, pertanyaan yang lebih relevan bukan:
"Apakah saya harus meninggalkan marketplace?"
Melainkan:
"Apakah sekarang saatnya saya punya ONE MORE CHANNEL?"
Jika jawabannya ya, Shopify bisa menjadi salah satu fondasi untuk membangunnya.
Explore the Next Channel
Jika Anda sudah memiliki brand dan ingin melihat apakah Shopify masuk akal sebagai channel tambahan untuk bisnis Anda, SLASH dapat membantu mulai dari strategy, storefront, integration, hingga launch.
ONE MORE CHANNEL.
One more way to reach your customers.
One more place to grow your brand.